Oleh : Zulhamsyah
Senja baru saja turun, langit biru pucat perlahan menjadi jingga yang siap menyambut suara azan maghrib di Desa Lambang Sari V, Kecamatan Lirik, Indragiri Hulu. Di ujung desa, di atas lahan seluas satu hektar, 13 perempuan berkerudung mulai bergegas. Tangan mereka cekatan mengumpulkan singkong dalam karung dari tanah yang dulu dianggap orang tidak ada harganya.
Dulu, lahan ini hanya semak belukar milik desa yang terlantar. Lahan kosong nyaris tak punya denyut harapan dan nadi kebahagiaan. Kering saat kemarau, becek saat hujan. Tak ada yang melirik. Sampai akhirnya, 13 perempuan didominasi para emak – emak tangguh yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati memutuskan untuk melawan nasib lahan itu.
” Dulunya ini lahan kosong semak belukar milik desa, gak ada yang ngurus. Kita inisiatif minta izin ke Kepala Desa dan tokoh untuk mengolah lahan.Salah satunya menanam singkong,” kenang Sri Wiji Rahayuningsih atau akrab dipanggil bu Yayuk Ketua KWT Melati dengan senyum sembari mengajak anggota lainnya menyabut singkong.
Inisiatif tersebut gayung bersambut, PT Pertamina EP Lirik Field hadir memberikan pendampingan. Melalui Program Kampung Iklim (PROKLIM), perusahaan mengarahkan cara bertani dengan benar, memilih bibit unggul yang tahan dengan segala macam bentuk cuaca, paling penting perusahaan memupuk asa menumbuhkan harapan bagi perempuan tangguh.
” Desa Lambangsari V merupakan salah satu desa yang berada di wilayah operasi PT Pertamina EP Lirik. Memiliki potensi sumber daya alam yang cukup baik, terutama budi daya tanaman pangan seperti singkong. Perusahaan hadir sebagai wujud komitmen mendorong kemandirian dan kelestarian lingkungan. Pemilahan jenis sampah rumah tangga yang dapat diolah menjadi kompos dan menjadi pupuk bagi tenaman singkong. Kita terus lakukan pendampingan dan bimbingan agar Proklim terwujud di Desa Lambang Sari, ” ujar Lukman Arif Manajer PT Lertamina EP Lirik.
– Singkong Mengubah Segalanya
Sebelum menggeluti keripik ubi, singkong yang hanya dijual karungan murah dinilai tak mencukupi kebutuhan. Namun dari senda gurau dari dapur seorang anggota dengan ide sederhana mengubah segalanya.
” Bu, kenapa Kita gak bikin keripik ubi saja?”
Ide sederhana disambut sangat antusias. Penuh semangat dengan kompor, minyak, dan kolaborasi ramuan resep para anggota , singkong yang dulunya Rp. 2.000,- per kilo disulap menjadi keripik gurih yang dijual Rp. 15.000,- per bungkus. Pemasarannya juga awalnya sederhana dor to dor, dari wirit ke wirit, arisan ke arisan, keripik olahan KWT Melati Lambang Sari mulai tersohor.
Pertamina EP Lirik kemudian membantu lebih jauh. Pelatihan pengemasan yang menarik, cara menghitung modal dan untung, hingga cara memasarkan lewat media sosial. Yang tadinya hanya emak-emak yang menunggu suami pulang dari ladang, kini menjadi pengusaha.
Kini, dari lahan tidur yang dulu tak termanfaatkan, mereka membudidayakan singkong sebagai komoditas utama karena mudah dibudidayakan dan sesuai dengan kondisi lahan. Hasil panen diolah menjadi produk unggulan Keripik Ubi Ibu dengan tiga varian rasa: original, balado, dan pedas. Proses ini memberikan nilai tambah bagi komoditas lokal dan menjadi contoh nyata ekonomi sirkular.
” Alhamdulillah sekarang pendapatan Kami lebih baik dibandingkan masih menjual singkong karungan dengan harga murah. Sekarang kami bisa beri jajan anak tidak minta suami dulu,” ujar salah satu anggota KWT Melati.
Rasa bangga juga dilontarka Kepala Desa Lambangsari V, Syafrizal. Dirinya menceritakan betapa semangatnya KWT Melati dalam upaya meningkat ekonomi.
” Anggota KWT Melati terus mengembangkan usaha mereka secara mandiri Menyulap lahan kosong menjadi lahan cuan dengan menanam ubi bernilai ekonomi yang sangat menjanjikan. Produksi Keripik Ubi Ibu dengan kemasan yang dibuat menarik kini mulai merambah ke level pasar yang lebih tinggi. Kami dari Desa akan terus mendukung usaha rakyat yang dapat membawa perubahan dan tentunya menghasilkan pendapatan ekonomi mereka, ” ucap Kades.
– 13 Perempuan, Garda Terdepan Penjaga Iklim
Program yang mulai dilaksanakan sejak tahun 2024 ini merupakan bagian dari implementasi tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan, sekaligus dukungan terhadap kebijakan nasional Kampung Iklim dan arahan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indragiri Hulu.
Pendekatannya tidak hanya berorientasi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mengintegrasikan pemberdayaan perempuan melalui pengembangan usaha berbasis potensi lokal.
Bagi KWT Melati, PROKLIM bukan sekadar program lingkungan. Ini tentang martabat. Saat banyak orang bicara perubahan iklim di ruang ber-AC, mereka mempraktikkannya langsung di tanah: tidak membakar, menanam yang mengikat air, dan mengelola sampah dapur menjadi kompos untuk singkong mereka.
Menurut Elpadri Adha Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indragiri Hulu, Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus mendorong pelaksanaan Program Kampung Iklim (PROKLIM) sebagai strategi nasional dalam meningkatkan partisipasi masyarakat pada aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berbasis komunitas (KLHK, 2016).
” Kebijakan tersebut ditindaklanjuti oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indragiri Hulu melalui pembinaan
desa PROKLIM, termasuk melalui Surat Nomor 660/DLH-PPKL/VII/188 mendorong penguatan Kelompok Wanita Tani sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Arah kebijakan ini membuka peluang untuk mengintegrasikan
pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi perempuan sehingga manfaat program tidak hanya dirasakan dari sisi ekologis, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan
masyarakat,” bebernya.
Satu hektar itu kini bukan cuma kebun. Ia adalah ruang belajar, ruang curhat, ruang cuan, dan ruang bukti bahwa perempuan desa bisa menjadi garda depan penjaga iklim.
Senja di Lambang Sari V hari itu tidak hanya membawa gelap. Ia membawa aroma keripik singkong yang baru digoreng, dan tawa 13 perempuan tangguh yang berhasil mengubah stigma “lahan marginal” menjadi “lahan cuan”.
Dari singkong, mereka menanam harapan. Dan dari kolaborasi kecil dengan Pertamina EP Lirik, harapan itu tumbuh subur, setinggi tanaman mereka sendiri.***
